Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji hanyalah bagi Allah yang telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik penciptaan, kemudian menyempurnakan dengan kuasa-Nya anugerah pasangan hidup yang menyebabkan manusia merasakan ketenangan, tenteram, cinta dan kasih sayang.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, beserta para sahabat, keluarga, dan pengikutnya semua yang setia hingga akhir zaman. Nabi suci yang telah memberikan tuntunan dan contoh keteladanan dalam kehidupan keluarga. Nabi mulia yang amat menghargai rumah tangga, dengan memberikan aturan yang lengkap dan rinci dalam berbagai permasalahannya. Tidak ada agama dan system hidup manapun yang mampu memberikan penghargaan secara sempurna kepada lembaga keluarga, selain Islam.
Allah menciptakan manusia dalam bentuk yan sangat indah, dan untuk mereka Allah menciptakan pasangannya. Secara naluriah manusia akan memiliki ketertarikan kepada lawan jenis. Ada sesuatu yang amat kuat menarik, sehingga laki-laki dengan dorongan naluriah dan fitrahnya mendekati perempuan. Sebaliknya, dengan perasaan dan kecenderungan alamiyah perempuan merasakan kesenangan tatkala didekati laki-laki.
Untuk merealisasikan ketertarikan tersebut menjadi sebuah hubungan yang benar dan manusiawi, Islam datang dengan membawa ajaran pernikahan. Sebuah ajaran suci yang menampik kehidupan membujang di satu sisi, namun juga menampik kebebasan interaksi laki-laki dan perempuan di sisi lain.
KUSIAPKAN DIRI MENUJU PERNIKAHAN
Itulah salah satu sub judul dari buku “DI JALAN DAKWAH AKU MENIKAH” karangan Cahyadi Takariawan. Dari banyaknya buku tentang pernikahan yang saya baca, buku ini cukup memberikan motivasi lebih. Seperti judul bukunya, buku ini memberikan pengajaran tentang tujuan kita dalam menikah. Tidak hanya sekedar menghalalkan hubungan dua insan yang saling tertarik satu sama lain, tapi menikah di jalan dakwah memberikan orientasi pernikahan itu adalah ibadah. Bahwa berkeluarga adalah salah satu tahapan dakwah untuk menegakkan kedaulatan di muka bumi Allah.
Rasulullah SAW bersabda,
“ Apakah seseorang melaksanakan pernikahan, berarti telah menyempurnakan separuh agamanya, maka hendaklah ia menjaga separuh yang lain dengan bertaqwa kepada Allah” (HR Baihaqi dari Anas Bin Malik)
“ Menikah adalah sunahku, maka barang siapa tidak suka dengan sunahku, ia bukan golonganku. Menikahlah, karena aku akan membanggakan jumlahmu yang banyak di hari akhir nanti” (HR Ibnu Majah dari Aisyah r.a)
“ Wahai para pemuda, barang siapa telah mampu diantara kalian hendaklah melaksanakan pernikahan, karena ia dapat menundukan pandangan dan menjaga kemaluan (kehormatan). Barang siapa tidak mampu hendaklah berpuasa, karena ia menjadi benteng perlindungan” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa’i).
Dan masih banyak Al Qur’an dan Hadits yang menerangkan tentang perintah menikah. Subhanallah, islam hadir dengan system yang begitu sempurna. Masalah pernikahan pun menjadi bagian yang teramat penting dalam agama ini. Islam memang hadir sesuai dengan kebutuhan manusia. Bersyukurlah kita yang telah memilih islam sebagai jalan hidup.
Lalu, kapan kita siap menikah? Begitu banyak alas an menunda pernikahan. Belum mendapatkan pekerjaan tetap, belum mapan, belum dapet izin ortu, masih ingin bebas main, ingin kuliah ampe S2 dulu, dan banyak lagi segudang alasan. Ga jadi masalah klo menunda pernikahan karena ada alasan syar’i, yang penting kita bisa menjaga diri sehingga kita terjerumus ke lubang dosa. Dan yang paling penting jangan menjadikan alasan untuk berpacaran.
Memang, klo kita pikir-pikir menikah terasa berat dengan kondisi kita yang belum mendapat pekerjaan, bahkan mungkin masih kuliah. Tapi klo jika hati kita mulai gelisah karena ada perasaan ketertarikan terhadap seseorang (sampai susah tidur, susah konsentrasi, dll), mulai tidak bisa menahan pandangan, mulai tidak bisa menahan diri, dan menikah sudah menguasai alam sadar kita, sampai tiap detik yang terpikir itu aja, saya sarankan anda untuk segera menikah, hehehe… Klo pernikahan bisa menentramkan hati, kenapa harus ditunda? J
Tapi yang pasti, dari mulai saat ini kita harus mempersiapkan diri kita untuk menuju ke jenjang itu. Apalagi kita ingin calon pasangan hidup yang baik. Ikhitiar pertama yang harus kita lakukan untuk mendapatkan pasangan yang baik adalah memperbaiki diri terlebih dahulu .
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang keji (pula). Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik (pula). (QS An-Nur:26)
Sambil memperbaiki diri, kita harus terus menggali ilmu tentang pernikahan. Hukum, etika, aturan, dan pernak-pernik pernikahan dan kerumahtanggaan harus kita kuasai sebelum menikah. Selain itu kesiapan fisik dan materi juga. Persiapan material sebelum pernikahan dimaksudkan lebih kepada kesiapan pihak laki-laki untuk menafkahi dan kesiapan perempuan untuk mengelola keuangan. Seseorang laki-laki harus sudah memiliki pandangan dan rancangan untuk melakukan tindakan ekonomi tertentu, yaitu usaha-usaha yang halal. Mengenai berapa penghasilan yang didapatkan dari usaha tersebut jangan dijadikan tolak ukur utama untuk menilai kesiapan menikah. Yang penting etos kerja dari pihak laki-laki untuk berusaha mencari nafkah dengan seluruh kemampuan yang dimiliki.
Nah, klo dah siap dan mantap secara ruhiyah, baru lah kita berikhtiar mencari calon pasangan hidup. Ta’aruf adalah metode yang paling tepat. Terserah jalannya mau seperti apa, lewat murabbi, lewat teman, atau mungkin langsung juga gpp, asalkan tetap menjaga syari’at. Yang penting kita harus selalu yakin bahwa Allah pasti akan memberikan kita jodoh terbaik untuk kita. Jodoh itu hak veto Allah. Makanya klo sedang mencari jodoh yang harus dilakukan secara intens adalah kedekatan kita dengan Allah, bukan semakin dekat dengan laki-laki/wanita yang kita harapkan menjadi jodoh kita. Insya Allah klo kita memasrahkan semuanya kepada Allah, walaupun kita belum kenal sama sekali sebelumnya, baru bertemu dengan calon kita hanya beberapa kali pertemuan, itupun tidak berudaan karena untuk menjaga diri, klo emang dia jodoh kita, pasti Allah akan memantapkan hati kita untuk memilihnya. Insya Allah kita ga akan suka atau benci duluan, apalagi ama orang yang belum kita kenal sebelumnya. Hehehe, serulah ta’aruf itu. ^_^
Hati adalah pusat pengambilan keputusan. Agar tidak salah mengambil keputusan maka hati kita harus bersih. Oleh karena kita harus semakin mendekatkan diri kepada Allah, agar hati ini bersih.
Allah pasti akan mempertemukan kita dengan jodoh kita di waktu yang tepat, maka bersabarlah sampai waktu yang Allah tentukan itu tiba. Yang penting terus berusaha dan berdo’a.
“ Ya Allah jadikan aku ridha atas ketetapan-Mu. Berkahkanlah untukku berkaitan dengan takdir-Mu, sehingga aku tidak ingin disegerakan sesuatu yang Engkau tunda, dan tidak ingin menunda sesuatu yang Engkau segerakan. Jangan biarkan tubuhku cenderung mencari hal-hal yang bukan milikku”



rifqie said,
September 1, 2008 @ 4:23 am
jadi kapan, ti?
tehsiti said,
September 2, 2008 @ 1:56 am
hehehe…gatau juga gin, belum yakin 100%. padahal klo baca buku itu ga ada alasan lagi buat menunda. ya do’akan saja
pengennya kerja dulu, biar nanti pas nikah gak ngerepotin orangtua lagi…