Bismillahirrahmaanirrohiim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin. Segala puji bagi Allah yang masih memberikan karunia umur kepada kita semua sehingga kita dipertemukan kembali dengan bulan suci ramadhan. Bulan yang penuh rahmat dan ampunan.
Bulan ramadhan adalah madrasah jiwa yang disiapkan oleh Allah untuk mendidik umat islam agar lebih taat kepada-Nya dan melahirkan generasi yang muttaqien.
“ Hai-hai orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” (Q.S. Albaqoroh:183).
Selama mengikuti pendidikan itu, umat islam banyak diuji. Mereka diharuskan menahan diri dari rasa lapar, haus, dan hawa nafsu pada waktu yang telah ditentukan. Pada saat itu pula keimanan umat islam diuji. Bagi mereka yang berhasil melewati ujian itu, maka Allah akan membalas dengan pahala yang berlipat-lipat.
“ Semua amal anak adam adalah untuknya, kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberinya pahala. Anak adam meninggalkan makan dan syahwatnya karena-Ku” (HR Ibnu Khuzaimah)
untuk itulah, kita harus senantiasa mempersiapkan diri agar setiap bulan suci ramadhan kita bisa beribadah dengan optimal agar menjadi muttaqien. Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi ilmu dengan siapapun yang membaca blog ini, tentang BAGAIMANA MENJAGA SEMANGAT RAMADHAN. Materi ini saya dapatkan dari sebuah acara ta’lim tarhib ramadhan pada tanggal 30 Agustus 2008 di mesjid Habibburahman oleh Ust. Udin (orang Indonesia yang menuntut ilmu di Sudan).
Menjaga semangat ramadhan
Ada hal yang harus dlakukan
- Penyambutan yang baik
- Pelaksanaan yang optimal
- Pengaplikasian yang Istiqomah
Penyambutan yang baik
Ada 10 cara menyambut ramadhan yang baik, yaitu :
- memperbanyak do’a. Sebelum ramadhan sering-seringlah berdo’a agar diberi kesempatan untuk bisa melaksanakan shaum ramadhan tahun ini, memohon kesehatan, dan memohon agar selalu bersemangat mengisi ramadhan dengan amalan sholeh, serta dihindarkan dari hal-hal yang dapat menganggu optimalisasi ramadhan.
- memperbanyak pujian dan syukur kepada Allah SWT. Rasa syukur yang diwujudkan dalam bentuk keta’atan kepada Allah yang semakin meningkat
- bergembira dan ceria menyambut ramadhan
- menyusun perencanaan yang baik untuk optimalisasi ramadhan
- tekad yang sungguh-sungguh untuk mengoptimalkan di bulan suci ramadhan kali ini. Azamkan dalam hati untuk melaksanakan apa yang telah direncanakan. Jangan sampai rencana hanyalah rencana, hanya tulisan di atas kertas yang tidak ada wujud konkritnya.
- Ilmu dan pemahaman yang baik terhadap hukum-hukum dan aturan-aturan ramadhan.
“ …maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui” (Q.S Al Anbiya:7)
- pengkondisian jiwadan ruhani melalui bacaan, telaah kitab dan buku, mendengarkan ceramah-ceramah, dsb.
- persiapan dan perencanaan yang baik untuk da’wah. Sesuai dengan perintah Allah agar manusia saling menasehati. Sebaiknya kita pun bisa mengajak saudara-saudara yang lain untuk mengoptimalkan ibadah shaum ramadhan, misalkan sms taushiyah, tahajud call, dll.
- membuka lembaran putih dengan Allah, Rasulullah, keluarga, dan lingkungan sekitar. Artinya kita berusaha agar hati kita bersih dari dosa dan kesalahan sehingga selama mengerjakan shaum kita bisa semakin dekat dengan Allah.
- meminta maaf kepada orangtua, kerabat dekat, sahabat, dan orang-orang disekitar kita.
Pelaksanaan yang optimal
Melaksanakan secara optimal ibadah-ibadah wajib dan menghidupkan sunnah Rasul (Shadaqoh, Qiyamul Lail, Tilawah, I’tikaf, dll). Tujuan dari optimalisasi ini adalah untuk
Meningkatkan ma’nawiyah islamiyah, tsaqofah (pemahaman) islamiyah, kesadaran islam, komitmen dalam beramal, dan untuk memakmurkan mesjid.
Pengaplikasian yang istiqomah
Setelah ramadhan, manusia terbagi dua yaitu orang-orang yang menang dan orang-orang yang kalah. Orang-orang yang menang adalah orang-orang yang bisa tetap istiqomah dalam beribadah di 11 bulan berikutnya. Orang-orang yang kalah adalah mereka yang tidak bisa optimal dan ibadahnya menurun setelah ramadhan.