Archive for November, 2008

Mengapa kenyataan tidak sesuai dengan yang kita harapkan?

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; Allah mengetahui sedang Allah tidak mengetahui” (Q.S. Al Baqoroh : 216)

Itulah ayat yang bisa menjawab pertanyaan di atas. Sesuatu yang kita harapkan dan kita cita-citakan belum tentu bisa terwujud, walaupun mungkin kita sudah bekerja keras. Jika dilihat dari sisi insaniyah, pasti kita akan kecewa jika itu terjadi. Makanya Allah memerintahkan kita untuk bertawakal setelah berikhtiar, yaitu menyerahkan keputusan akhir kepada Allah. Dia yang lebih tahu mana yang terbaik untuk kita.

“ …Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya” (Q.S. Ali Imran : 159)

Dengan bertawakal kepada Allah, maka hati kita akan selalu yakin bahwa apa yang terjadi adalah yang terbaik yang Allah putuskan untuk kita. Pasti ada hikmah dibalik peristiwa. Itulah sisi robbaniyyah pada diri kita. Keduanya akan selalu bergulat dalam hati. Orang yang memperkuat sisi robbaniyahnya, dia akan menang melawan kegalauan. Akan tenang hatinya karena telah memasrahkan semuanya kepada Allah. Dia yang memperkuat sisi insaniyahnya, maka akan lebih sering mengeluh dan tidak bersyukur. Kita perlu strategi untuk mengelola keduanya.

Tidak masalah kalau kita menangis karena sedih, merenung karena bingung, atau mungkin kita juga mengeluh karena kecewa. Anggap saja kita sedang megeluarkan energi negatif dalam diri kita. Tapi janganlah berlarut-larut, kecuali dihadapan Allah. Di saat kondisi seperti ini, semakin dekat dengan Allah. Rasakanlah, ketika kita bersujud sambil menangis memohon pertolongannya, Allah sedang memeluk kita dan mengusap membelai rambut kita. Percayalah, Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bersabar.

Kesabaran itu ibarat satu sisi dari mata uang logam. Sisi yang yang satunya lagi adalah pengorbanan. Kita akan menemukan definisi kesabaran setelah banyak yang telah dikorbankan untuk mewujudkan sesuatu yang kita inginkan.

Comments (2) »

Pantas Saja Allah Memberikan Surga Untuk Mereka

Sebulan yang lalu, keluargaku terkena musibah. Karena janin dalam kandungan kakakku tidak berkembang, maka terpaksa harus digugurkan. Jelas sekali dia menolak. Soalnya hampir 6 tahun diam menunggu kehadiran bayi itu. Kemudian dia berusaha mempertahankan kandungannya itu dengan harapan ada keajaiban. Do’a dan ikhtiar pun tak henti-hentinya dia dan suaminya dia lakukan. Dua minggu kemudian dia merasakan hal yang aneh pada kandungannya. Awal-awalnya keluar plek. Kemudian dia merasakan sakit punggung, sama seperti yang dialami wanita saat akan haid. Lama kelamaan rasa sakit punggung itu disertai mules. Makin lama, rasa mules itu tidak tertahankan lagi. Mungkin sakitnya sama kayak melahirkan. Dalam kondisi seperti itu pun dia masih sangat berharap kandungannya bisa dipertahankan. Karena dah ga tega liat dia terus-terusan kesakitan, akhirnya aku bawa dia ke rumah sakit sekitar pukul 12 malam. Sebelum berangkat, kakakku minta ke kamar mandi dulu. Dan ternyata dia mengeluarkan darah. Dari sana dia baru bisa yakin kalau dirinya sedang keguguran. Hatinya hancur, dan tangisan hebat pun menggetarkan kamar mandi saat itu. Sama halnya dengan hatiku, hancur, sakit hati, dan kecewa.

Kemudian setelah di bawa ke rumah sakit, ternyata kata dokternya belum ada pembukaan. Jadi harus di USG dulu, apakah bayinya bisa dipertahankan atau tidak. Setidaknya hati agak sedikit lega, berharap janinnya bisa bertahan. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Hasil USG menyatakan janin itu pada akhirnya harus diambil juga.

Sebagai manusia, pasti kita akan sedih dan kecewa. 6 tahun bukan waktu yang sebentar untuk menunggu. Tapi kita juga makhluk Tuhan. Dia yang Maha Berkehendak atas diri kita. Mungkin Tuhan punya maksud lain dibalik semua ini, yang saya yakin ini untuk kebaikan kami sekeluarga.

Sebenarnya yang saya soroti dari kejadian ini adalah fitrahnya wanita. Setiap wanita pasti menginginkan hamil, memiliki anak, melahirkannya, dan bisa membesarkannya. Walaupun dia tahu betapa besar resiko yang harus dihadapi ketika hamil, apalagi saat melahirkan. Betapa sayangnya seorang ibu pada anaknya sampai berani mempertaruhkan nyawa untuk anaknya. Ketika hamil pun, banyak resiko yang harus dihadapi. Menanggung beban anaknya dalam kandungan selama 9 bulan. Apalagi dia pun harus merawatnya sampai dewasa. Pantas saja Allah menjanjikan surga bagi wanita yang meninggal karena melahirkan. Dia menjadi seorang syahidah. Sama seperti laki-laki yang meninggal di saat perang membela kebenaran.

Leave a comment »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.