Mengapa kenyataan tidak sesuai dengan yang kita harapkan?

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; Allah mengetahui sedang Allah tidak mengetahui” (Q.S. Al Baqoroh : 216)

Itulah ayat yang bisa menjawab pertanyaan di atas. Sesuatu yang kita harapkan dan kita cita-citakan belum tentu bisa terwujud, walaupun mungkin kita sudah bekerja keras. Jika dilihat dari sisi insaniyah, pasti kita akan kecewa jika itu terjadi. Makanya Allah memerintahkan kita untuk bertawakal setelah berikhtiar, yaitu menyerahkan keputusan akhir kepada Allah. Dia yang lebih tahu mana yang terbaik untuk kita.

“ …Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya” (Q.S. Ali Imran : 159)

Dengan bertawakal kepada Allah, maka hati kita akan selalu yakin bahwa apa yang terjadi adalah yang terbaik yang Allah putuskan untuk kita. Pasti ada hikmah dibalik peristiwa. Itulah sisi robbaniyyah pada diri kita. Keduanya akan selalu bergulat dalam hati. Orang yang memperkuat sisi robbaniyahnya, dia akan menang melawan kegalauan. Akan tenang hatinya karena telah memasrahkan semuanya kepada Allah. Dia yang memperkuat sisi insaniyahnya, maka akan lebih sering mengeluh dan tidak bersyukur. Kita perlu strategi untuk mengelola keduanya.

Tidak masalah kalau kita menangis karena sedih, merenung karena bingung, atau mungkin kita juga mengeluh karena kecewa. Anggap saja kita sedang megeluarkan energi negatif dalam diri kita. Tapi janganlah berlarut-larut, kecuali dihadapan Allah. Di saat kondisi seperti ini, semakin dekat dengan Allah. Rasakanlah, ketika kita bersujud sambil menangis memohon pertolongannya, Allah sedang memeluk kita dan mengusap membelai rambut kita. Percayalah, Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bersabar.

Kesabaran itu ibarat satu sisi dari mata uang logam. Sisi yang yang satunya lagi adalah pengorbanan. Kita akan menemukan definisi kesabaran setelah banyak yang telah dikorbankan untuk mewujudkan sesuatu yang kita inginkan.

2 Responses so far »

  1. 1

    ario said,

    syukron jazakillahu khairan atas taujihnya.. sangat mencerahkan

  2. 2

    Siti Rahmawati said,

    waiyakum…semoga Allah senantiasa membimbing kita.(amien)


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.