Sebulan yang lalu, keluargaku terkena musibah. Karena janin dalam kandungan kakakku tidak berkembang, maka terpaksa harus digugurkan. Jelas sekali dia menolak. Soalnya hampir 6 tahun diam menunggu kehadiran bayi itu. Kemudian dia berusaha mempertahankan kandungannya itu dengan harapan ada keajaiban. Do’a dan ikhtiar pun tak henti-hentinya dia dan suaminya dia lakukan. Dua minggu kemudian dia merasakan hal yang aneh pada kandungannya. Awal-awalnya keluar plek. Kemudian dia merasakan sakit punggung, sama seperti yang dialami wanita saat akan haid. Lama kelamaan rasa sakit punggung itu disertai mules. Makin lama, rasa mules itu tidak tertahankan lagi. Mungkin sakitnya sama kayak melahirkan. Dalam kondisi seperti itu pun dia masih sangat berharap kandungannya bisa dipertahankan. Karena dah ga tega liat dia terus-terusan kesakitan, akhirnya aku bawa dia ke rumah sakit sekitar pukul 12 malam. Sebelum berangkat, kakakku minta ke kamar mandi dulu. Dan ternyata dia mengeluarkan darah. Dari sana dia baru bisa yakin kalau dirinya sedang keguguran. Hatinya hancur, dan tangisan hebat pun menggetarkan kamar mandi saat itu. Sama halnya dengan hatiku, hancur, sakit hati, dan kecewa.
Kemudian setelah di bawa ke rumah sakit, ternyata kata dokternya belum ada pembukaan. Jadi harus di USG dulu, apakah bayinya bisa dipertahankan atau tidak. Setidaknya hati agak sedikit lega, berharap janinnya bisa bertahan. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Hasil USG menyatakan janin itu pada akhirnya harus diambil juga.
Sebagai manusia, pasti kita akan sedih dan kecewa. 6 tahun bukan waktu yang sebentar untuk menunggu. Tapi kita juga makhluk Tuhan. Dia yang Maha Berkehendak atas diri kita. Mungkin Tuhan punya maksud lain dibalik semua ini, yang saya yakin ini untuk kebaikan kami sekeluarga.
Sebenarnya yang saya soroti dari kejadian ini adalah fitrahnya wanita. Setiap wanita pasti menginginkan hamil, memiliki anak, melahirkannya, dan bisa membesarkannya. Walaupun dia tahu betapa besar resiko yang harus dihadapi ketika hamil, apalagi saat melahirkan. Betapa sayangnya seorang ibu pada anaknya sampai berani mempertaruhkan nyawa untuk anaknya. Ketika hamil pun, banyak resiko yang harus dihadapi. Menanggung beban anaknya dalam kandungan selama 9 bulan. Apalagi dia pun harus merawatnya sampai dewasa. Pantas saja Allah menjanjikan surga bagi wanita yang meninggal karena melahirkan. Dia menjadi seorang syahidah. Sama seperti laki-laki yang meninggal di saat perang membela kebenaran.


